HeadlineWisata

Torosiaje, Kampung Suku Bajo di Atas Laut yang Memikat dari Ujung Gorontalo

×

Torosiaje, Kampung Suku Bajo di Atas Laut yang Memikat dari Ujung Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Menjelajah Desa Torosiaje di Pohuwato, kampung Suku Bajo di atas laut Gorontalo yang menawarkan wisata mangrove, budaya bahari dan kehidupan masyarakat pesisir. Foto: Hibata.id/Arfandi Ibrahim
Menjelajah Desa Torosiaje di Pohuwato, kampung Suku Bajo di atas laut Gorontalo yang menawarkan wisata mangrove, budaya bahari dan kehidupan masyarakat pesisir. Foto: Hibata.id/Arfandi Ibrahim

Hibata.id, Pohuwato Deretan rumah berdiri di atas laut. Jembatan kayu menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya.

Sementara perahu-perahu kecil bergerak di antara permukiman. Di kejauhan, hamparan mangrove membingkai sebuah kampung yang seolah menyatu dengan perairan.

Inilah Desa Torosiaje, perkampungan Suku Bajo di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

Torosiaje menawarkan lebih dari sekadar pemandangan laut. Wisatawan yang datang bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat Bajo, menyusuri kawasan mangrove dengan perahu, hingga bermalam di penginapan yang dikelola warga.

Perjalanan menuju kampung ini pun menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Sebelum mencapai permukiman di atas laut, pengunjung akan tiba di sebuah dermaga yang dikelilingi tumbuhan mangrove. Perahu-perahu milik warga berjejer menunggu penumpang yang hendak menyeberang.

Dari dermaga, perjalanan dilanjutkan menggunakan perahu selama kurang lebih 15 menit.

Perahu perlahan meninggalkan dermaga. Rimbunnya mangrove menemani bagian awal perjalanan sebelum pemandangan mulai terbuka ke arah laut.

Tak lama kemudian, rumah-rumah warga mulai terlihat dari kejauhan.

Semakin dekat, pemandangannya semakin jelas. Rumah-rumah berdiri di atas tiang, berjajar mengikuti bentang perairan. Perahu menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga:  Penjualan SIM Teregistrasi Ilegal, Mahasiswa Desak Polda Gorontalo Tangkap Pelaku

Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, pemandangan itu menghadirkan rasa penasaran.

Salah satunya Faisal, warga Kota Gorontalo. Ia sengaja datang untuk melihat langsung bagaimana masyarakat Suku Bajo menjalani kehidupan sehari-hari di permukiman yang berdiri di atas laut.

“Penasaran melihat perkampungan di atas air ini, apalagi aktivitas mereka sehari-hari,” kata Faisal.

Rasa penasaran Faisal tidak berhenti pada deretan rumah.

Hamparan mangrove di sekitar Torosiaje juga menarik perhatiannya. Ia kemudian memilih kembali menaiki perahu dan berkeliling menyusuri kawasan tersebut.

Dari atas perahu, Torosiaje memperlihatkan sisi lain. Laut, mangrove dan permukiman masyarakat berpadu dalam satu bentang alam pesisir.

Pengalaman seperti itulah yang menjadi salah satu daya tarik Torosiaje.

Wisatawan tidak hanya datang untuk mengambil gambar dengan latar rumah di atas laut, tetapi juga dapat menyaksikan lebih dekat kehidupan masyarakat Bajo yang sejak lama memiliki hubungan erat dengan laut.

Menikmati Torosiaje tidak harus selesai dalam sehari.

Warga setempat menyediakan sejumlah penginapan bagi wisatawan yang ingin bermalam dan merasakan suasana kampung ketika matahari mulai tenggelam hingga pagi kembali menyapa perairan.

Baca Juga:  Tangga 2000 Gorontalo, Wisata Pantai Hits dengan Sunset dan Kuliner Khas

Tarif penginapan bervariasi, berkisar Rp150.000 hingga Rp250.000 per malam, menyesuaikan fasilitas yang tersedia.

Keberadaan penginapan tersebut membuat wisatawan memiliki waktu lebih panjang untuk menjelajahi desa, berinteraksi dengan masyarakat maupun menikmati suasana laut.

Akhir pekan biasanya menjadi waktu ketika pengunjung mulai ramai berdatangan.

Tokoh masyarakat Bajo, Kamarudin, mengatakan kunjungan akan semakin meningkat ketika memasuki libur nasional dan libur panjang.

“Bahkan kalau akhir tahun dan Idul Fitri bisa ratusan yang datang,” kata Kamarudin.

Ramainya kunjungan tidak terlepas dari karakter Torosiaje yang berbeda dibandingkan banyak destinasi wisata lainnya di Gorontalo.

Di sini, kehidupan masyarakat menjadi bagian dari daya tarik itu sendiri.

Nama Torosiaje tidak berdiri sendiri.

Kamarudin menjelaskan kawasan tersebut dikenal pula sebagai Torosiaje Serumpun, yang mencakup tiga desa, yakni Desa Torosiaje, Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari.

Torosiaje memiliki ciri paling mencolok karena permukiman masyarakatnya berada di atas laut. Sementara Torosiaje Jaya dan Bumi Bahari berada di daratan.

Baca Juga:  Bekal dan Peralatan yang Dibutuhkan saat Berwisata

Kampung di atas laut itu kemudian berkembang menjadi salah satu tujuan wisata di Kabupaten Pohuwato.

Menurut Kamarudin, pengembangan Torosiaje sebagai desa wisata tumbuh melalui keterlibatan masyarakat bersama pemerintah desa dan dukungan instansi terkait.

“Inisiatif dari masyarakat, pemerintah desa dan kerja sama dengan Dinas Pariwisata sehingga desa ini jadi desa wisata,” ungkapnya.

Kini Torosiaje bukan hanya menjadi tempat tinggal masyarakat Bajo.

Kampung tersebut juga menjadi ruang bagi pengunjung untuk mengenal budaya masyarakat pesisir, menikmati ekosistem mangrove sekaligus melihat bagaimana laut mengambil bagian besar dalam kehidupan sehari-hari warga.

Di Torosiaje, laut bukan halaman belakang rumah.

Laut adalah halaman depan, jalur perjalanan, ruang mencari penghidupan, sekaligus bagian dari kehidupan yang terus diwariskan.

Ketika perahu meninggalkan perkampungan dan rumah-rumah di atas air perlahan mengecil di kejauhan, perjalanan mungkin telah berakhir.

Namun, pemandangan sebuah kampung yang hidup bersama laut membuat Torosiaje mudah tinggal lebih lama dalam ingatan.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel