HeadlineLingkungan

Ada Julang Sulawesi di Balik Kebun Kakao Pohuwato

×

Ada Julang Sulawesi di Balik Kebun Kakao Pohuwato

Sebarkan artikel ini
Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) terlihat di habitat alaminya di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Satwa endemik Sulawesi ini menjadi fokus Program Konservasi yang dijalankan PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo melalui penguatan riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat/Hibata.id
Burung Julang Sulawesi (Rhyticeros cassidix) terlihat di habitat alaminya di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Satwa endemik Sulawesi ini menjadi fokus Program Konservasi yang dijalankan PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Gorontalo bersama Universitas Muhammadiyah Gorontalo melalui penguatan riset, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo Perkebunan kakao di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya berfungsi sebagai kawasan produksi.

Penelitian yang dilakukan di Desa Makarti Jaya, Kecamatan Taluditi, menemukan 67 jenis burung dari 33 famili yang hidup dan beraktivitas di kawasan perkebunan tersebut.

Penelitian itu dilakukan pada Mei hingga Juli 2019 dengan membandingkan tiga tipe habitat, yakni perkebunan kakao campuran, kakao tanpa naungan, serta perkebunan kakao yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Hasil penelitian menunjukkan habitat yang berbatasan dengan hutan memiliki jumlah jenis burung paling tinggi, yakni 53 jenis.

Sementara itu, habitat kakao campuran dihuni 44 jenis burung dan kawasan kakao tanpa naungan mencatat 23 jenis.

Baca Juga:  10 Makan Murah dan Enak di Sekitar Malioboro Yogyakarta

Keberadaan kawasan hutan di sekitar perkebunan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya keragaman jenis burung di habitat tersebut.

Selain memanfaatkan tanaman di area perkebunan sebagai sumber pakan, burung juga dapat memanfaatkan sumber daya yang tersedia di kawasan hutan.

Kondisi itu membuat habitat perkebunan kakao yang berada di tepi hutan memiliki sumber daya yang lebih beragam dibandingkan kawasan perkebunan yang relatif terbuka.

Penelitian tersebut juga mencatat sejumlah jenis burung yang memiliki status konservasi Near Threatened (NT) hingga Vulnerable (VU) berdasarkan rujukan IUCN yang digunakan dalam penelitian.

Baca Juga:  ASN Pohuwato Pakai Gas Elpiji 3 Kg, Alasannya Bikin Kaget

Beberapa di antaranya yaitu itik benjut, sikatan leher merah, kring-kring dada kuning, julang Sulawesi, dan kangkareng Sulawesi.

Sebaliknya, perkebunan kakao tanpa naungan menjadi habitat dengan jumlah jenis burung paling rendah.

Peneliti mencatat 23 jenis burung dengan indeks keanekaragaman H’=0,36.

Kondisi tersebut dikaitkan dengan terbatasnya vegetasi berupa tumbuhan bawah dan pohon tinggi yang dapat menyediakan sumber makanan maupun ruang bagi burung.

Secara keseluruhan, penelitian menyebut tingkat keanekaragaman burung di kawasan perkebunan kakao Desa Makarti Jaya berada pada kategori sedang.

Namun, hasil uji statistik tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan pada jumlah individu maupun kerapatan burung di ketiga tipe habitat.

Baca Juga:  Kondisi Danau Limboto Gorontalo Tercemar Sampah Plastik

Temuan penelitian menunjukkan bahwa struktur vegetasi dan keberadaan hutan di sekitar perkebunan kakao menjadi bagian penting dalam menyediakan habitat bagi burung.

Perkebunan yang memiliki pohon naungan, semak, tanaman buah, dan tumbuhan berbunga dapat menciptakan struktur habitat yang lebih beragam dibandingkan perkebunan yang didominasi area terbuka.

Penelitian mengenai keanekaragaman burung di perkebunan kakao tersebut dipublikasikan oleh Jamalia Boinau, Daud Sandalayuk, dan Dian Puspaningrum dalam Gorontalo Journal of Forestry Research, Volume 3 Nomor 1 Tahun 2020.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel