Hibata.id – Ribuan kilometer dari Gorontalo, semangat “Torang Bekeng Bae” bergema di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka (Buperta) Cibubur, Jakarta Timur. Slogan yang dirintis Wali Kota Gorontalo H. Adhan Dambea itu kini menemukan ruang baru: menjadi bagian dari karakter yang dibawa kontingen Pramuka Kota Gorontalo ke panggung nasional.
Jambore Nasional (Jamnas) XII Gerakan Pramuka 2026 resmi dibuka pada Jumat, 14 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Pramuka ke-65. Kegiatan yang berlangsung hingga 20 Agustus itu diikuti lebih dari 21 ribu Pramuka Penggalang dari berbagai daerah di Indonesia, serta peserta dari sejumlah negara.
Pembukaan dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso. Jamnas XII menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak Indonesia untuk mengembangkan keterampilan, kreativitas, kepemimpinan, kemandirian, sekaligus memperkuat pendidikan karakter dalam suasana persaudaraan.
Di antara ribuan peserta tersebut, Kontingen Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo hadir membawa identitas daerah. Kontingen dipimpin Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Gorontalo, Kak Husin Ali.
Para Pramuka Penggalang Kota Gorontalo ditempatkan di Camp 2 Putera dan Camp 2 Puteri. Kedua lokasi itu berjarak sekitar empat kilometer. Bagi sebagian orang, jarak tersebut mungkin bukan persoalan besar. Namun bagi anak-anak usia Penggalang, perjalanan itu menjadi pengalaman yang menguji ketahanan sekaligus membentuk karakter.
“Semua ini sudah terbiasa di kami, karena kami sudah dilatih selama di Gorontalo. Latihan itu sempat disaksikan langsung Pak Wali Kota selaku Kamabicab Kota Gorontalo,” ujar Mohamad Hairil Ahdan Malaranggeng seusai upacara pembukaan Jamnas.
Pernyataan itu menunjukkan bagaimana pendidikan karakter bekerja melalui kebiasaan. Anak-anak tidak hanya belajar dari materi atau nasihat, tetapi dari pengalaman berulang: berjalan jauh, bekerja sama, menyelesaikan persoalan, beradaptasi dengan keterbatasan, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun kelompok.
Di Cibubur, latihan yang mereka jalani di Gorontalo menemukan ruang pembuktian.
Jarak empat kilometer antara camp putera dan puteri, misalnya, membuat peserta belajar mengatur tenaga, membaca situasi, saling menunggu, membantu teman, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Pendidikan karakter pun hadir dalam bentuk yang sederhana, tetapi nyata: dialami, bukan sekadar diceramahkan.
Dari Slogan Menjadi Kebiasaan
Jamnas XII mengusung tema “Berkreasi, Berinovasi, Terampil, dan Mandiri untuk Mendukung Swasembada Pangan.” Panitia menyiapkan berbagai kegiatan, mulai dari pengembangan wawasan, keterampilan kepramukaan, kreativitas, kepemimpinan, kebinekaan, hingga pengenalan materi kepramukaan berbasis digital.
Dalam pembukaan, ribuan peserta juga menampilkan atraksi kolosal menggunakan tongkat Pramuka. Atraksi itu memperlihatkan bagaimana tradisi kepramukaan tetap dapat dipertahankan sembari beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Bagi kontingen Kota Gorontalo, pengalaman di Cibubur merupakan kelanjutan dari proses pembinaan yang telah dilakukan di daerah.
Semangat “Torang Bekeng Bae” yang digaungkan Wali Kota Gorontalo H. Adhan Dambea tidak berhenti sebagai slogan. Frasa itu diarahkan menjadi etos dalam kehidupan masyarakat: bekerja dengan sungguh-sungguh, tidak mudah menyerah, dan berusaha memperbaiki keadaan ketika menghadapi persoalan.
Kata torang, yang berarti “kita”, juga menegaskan dimensi kebersamaan. Ada pesan bahwa pekerjaan dan persoalan tidak selalu harus dihadapi seorang diri.
Nilai kebersamaan itu pula yang dibawa anak-anak Gorontalo ketika mereka berjalan, berkemah, mengikuti berbagai kegiatan, dan berinteraksi dengan ribuan Pramuka dari berbagai daerah di Cibubur. Mereka tidak sekadar menjadi peserta jambore. Mereka membawa sebagian dari identitas daerahnya.
Gorontalo Datang sebagai Gorontalo
Perkembangan kontingen Kwarcab Kota Gorontalo selama mengikuti Jamnas XII telah dilaporkan langsung Husin Ali kepada Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Gorontalo. Laporan tersebut menjadi bagian dari koordinasi untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan kontingen berjalan dengan baik.
Husin menegaskan, kehadiran kontingen Kota Gorontalo tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar pencapaian dalam kegiatan. Mereka juga membawa nama baik daerah sekaligus menunjukkan hasil pembinaan kepramukaan yang selama ini dilakukan di Kota Gorontalo.
Sebab, keberhasilan pendidikan kepramukaan tidak semata diukur dari jumlah penghargaan. Ukuran yang lebih penting adalah kemampuan anak untuk berdiri sendiri, bekerja bersama, menghargai orang lain, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Cibubur mempertemukan ribuan cerita. Anak-anak datang dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan berbagai penjuru Indonesia. Peserta dari negara sahabat seperti Malaysia, Brunei Darussalam, dan Timor-Leste turut menambah warna perjumpaan tersebut.
Di tengah keberagaman itu, anak-anak Gorontalo membawa cerita mereka sendiri: tentang latihan, kebersamaan, jarak, keberanian meninggalkan rumah, dan sebuah kalimat sederhana yang sedang ditanamkan menjadi kebiasaan—Torang Bekeng Bae.
Jambore bukan sekadar perkemahan. Ia menjadi ruang perjumpaan budaya, tempat anak-anak belajar bahwa Indonesia begitu luas, tetapi perbedaan tidak harus menjadi jarak. Mereka bertemu, bekerja bersama, bertukar pengalaman, dan mengenali kekayaan karakter dari setiap daerah.
Di ruang itu pula identitas lokal tidak hilang. Sebaliknya, identitas tersebut justru menemukan panggung untuk diperkenalkan.
Gorontalo datang ke Cibubur bukan untuk menjadi daerah lain. Gorontalo datang sebagai Gorontalo—dengan budaya, karakter, semangat, dan kebanggaannya.
Di antara ribuan tenda yang berdiri di Buperta Cibubur, satu pesan dari Kota Gorontalo ikut menemukan gema.
Torang Bekeng Bae.
Dari Gorontalo bergema di Cibubur. Dari Cibubur, semangat itu dibawa pulang untuk menjadi bagian dari cerita Indonesia.













