Hibata.id, Gorontalo – Jika sapi dan kambing menjadi bintang saat Idul adha, maka beberapa hari setelahnya giliran cabai rawit atau rica yang sukses mencuri perhatian emak-emak Gorontalo.
Bagaimana tidak, harga rica di sejumlah pasar tradisional kini melambung hingga Rp100 ribu sampai Rp130 ribu per kilogram.
Padahal sebelum Iduladha, harganya masih berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram.
Kenaikan itu membuat sebagian warga mulai berpikir dua kali saat hendak memasak menu favorit berbahan daging kurban.
“Padahal baru dapat daging kurban, pas mau bikin sate rica-bawang malah harga ricanya yang bikin kaget,” kata Karlina, warga Kota Gorontalo sambil tertawa saat ditemui Hibata.id di pasar, Minggu (31/05/2026).
Menurutnya, rica bukan sekadar pelengkap masakan bagi masyarakat Gorontalo.
Bagi sebagian orang, makan daging tanpa rasa pedas terasa seperti menonton film tanpa suara.
Karena itu, ketika harga rica di Gorontalo melonjak, dapur rumah tangga ikut merasakan dampaknya.
“Bukan tidak beli, tapi dikurangi. Biasanya beli banyak, sekarang secukupnya saja. Rica sekarang sudah seperti barang mewah,” ujarnya.
Momentum pasca-Idul adha memang identik dengan beragam olahan daging. Mulai dari sate, rica-bawang, hingga berbagai masakan khas lainnya yang membutuhkan cabai dalam jumlah cukup banyak.
Tingginya permintaan itulah yang ikut mendorong kenaikan harga di pasar.
Di sisi lain, petani cabai mengaku pasokan yang tersedia belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang meningkat dalam waktu bersamaan.
Petani cabai asal Kabupaten Gorontalo, Kasman, mengatakan harga cabai di tingkat petani saat ini berada pada kisaran Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram.
“Permintaan tinggi, sementara panen belum banyak,” katanya.
Meski harga di tingkat petani ikut naik, selisih harga dengan pasar tetap menjadi perhatian.
Dari harga petani sekitar Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram, konsumen harus membeli hingga Rp130 ribu per kilogram di pasar tradisional.
Kondisi tersebut menunjukkan pasokan dan distribusi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi harga cabai di Gorontalo.
Kasman berharap panen berikutnya dapat meningkatkan ketersediaan stok sehingga harga kembali bergerak turun.
“Mudah-mudahan panen berikutnya lebih banyak supaya harga bisa normal lagi,” katanya.
Sementara itu, sejumlah warga hanya bisa berharap harga rica segera bersahabat.
Sebab bagi masyarakat Gorontalo, daging kurban tanpa rica yang cukup rasanya seperti kopi tanpa gula, ada yang kurang.
Untuk saat ini, mungkin benar kata para ibu di pasar: yang pedas bukan cuma ricanya, tapi juga harganya.













