Hibata.id, Pohuwato – Kekhawatiran penambang tradisional dan pengemudi ojek soal hilangnya akses masih menjadi perbincangan.
Penutupan akses menuju kawasan aktivitas penambang lokal di Nanase dan Dulamayo, Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, tampaknya bukan sekadar isu.
Rencana pembangunan bendungan oleh Pani Gold Mine (PGM) di kawasan tersebut berpotensi mengubah aktivitas warga yang selama ini menggantungkan penghasilan di jalur itu.
Pihak perusahaan menegaskan aspek keselamatan menjadi alasan utama pembatasan akses.
CSR Manager PGM, Mahesha Lugiana, mengatakan masyarakat, termasuk penambang tradisional dan pengemudi ojek, diminta tidak lagi memasuki area konstruksi karena tingginya aktivitas alat berat.
“PGM mengimbau masyarakat untuk tidak memasuki area konstruksi guna menghindari risiko kecelakaan kerja,” kata Mahesha dalam keterangan tertulis yang diterima media, Selasa (19/5/2026).
Namun di tengah imbauan itu, muncul pertanyaan yang belum terjawab, ke mana penambang dan para ojek harus mencari nafkah jika akses benar-benar ditutup?
Humas PGM, Kurniawan Siswoko, mengakui hingga saat ini masih ada penambang yang beraktivitas di area konsesi perusahaan.
“Saat kunjungan bupati kemarin masih ada,” katanya singkat.
Fakta itu menunjukkan persoalan di lapangan belum selesai. Penertiban belum berjalan penuh, sementara solusi konkret bagi warga terdampak juga belum terlihat jelas.
Sebelumnya, DPRD Pohuwato bersama pemerintah daerah turun langsung ke lokasi usai menerima aspirasi dari LSM Labrak dan kelompok penambang tradisional.
Dari hasil peninjauan, pemerintah daerah dan DPRD berencana menggelar rapat bersama Forkopimda serta dinas teknis untuk mencari jalan keluar.
Namun publik tentu menunggu lebih dari sekadar rapat. Sebab bagi penambang tradisional dan pengemudi ojek, ini bukan sekadar soal akses jalan, melainkan soal dapur yang harus tetap mengepul.













