Hibata.id, Sulut – Tari Mojoke, tarian tradisional khas Bintauna, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), sukses menjadi sorotan saat tampil dalam penyambutan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia pada peresmian Museum Daerah Sulawesi Utara.
Nuansa adat langsung terasa begitu para penari memasuki area acara dengan balutan busana tradisional yang megah.
Gerakan yang tegas namun anggun dipadukan irama musik tradisional membuat penampilan Tari Mojoke tampil memukau di hadapan Menteri Kebudayaan RI, rombongan pejabat, hingga Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus.
Peneliti sejarah dan kebudayaan Bolmut, Ersyad Mamonto, mengatakan penampilan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya lokal ke panggung nasional.
“Tari Mojoke ditampilkan saat prosesi gunting pita peresmian Museum Daerah Sulawesi Utara oleh Menteri Kebudayaan RI. Setelah itu, tarian ini juga menyambut menteri dan rombongan saat memasuki museum pada 21 Mei 2026 lalu,” kata Ersyad kepada Hibata.id, Kamis.
Ia menjelaskan Tari Mojoke merupakan tarian penyambutan tamu kerajaan dan tamu kehormatan yang telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Menurut Ersyad, eksistensi Tari Mojoke hingga saat ini tidak lepas dari peran para pelaku seni dan sanggar budaya di Bintauna yang terus menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Pementasan tari tersebut berada di bawah naungan Sanggar Tari Vuyu Tendeno yang diasuh Yanti Datunsolang bersama Sanggar Kresida SMA Negeri 1 Bintauna yang dimentori Wahyu Ponongoa.
Penampilan Tari Mojoke semakin kuat dengan iringan alat musik tradisional Kulintango yang dimainkan Sadli Datunsolang, Wahyu Ponongoa, Elfrad Datunsolang, dan Bahrudin Mopoliu.
Sementara para penari yang tampil dalam pementasan tersebut merupakan siswa SMA Negeri 1 Bintauna, yakni Arga Humalidi dan Nadifa Bagi.
Penampilan Tari Mojoke dalam agenda nasional itu mendapat apresiasi dari sejumlah tamu undangan karena dinilai mampu menghadirkan identitas budaya Bolmong Utara secara kuat, elegan, dan berkelas.
Momen tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa budaya lokal dari daerah juga mampu tampil membanggakan di hadapan tokoh nasional.














