Lingkungan

Aktivitas PETI di Pohuwato Picu Risiko Paparan Merkuri bagi Warga

×

Aktivitas PETI di Pohuwato Picu Risiko Paparan Merkuri bagi Warga

Sebarkan artikel ini
Jejak kerusakan akibat tambang emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo. Foto: Sarjan Layah/Mongabay Indonesia/Hibata.id
Jejak kerusakan akibat tambang emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo. Foto: Sarjan Layah/Mongabay Indonesia/Hibata.id

Hibata.id, Pohuwato Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang terus meluas di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, tidak hanya meninggalkan kerusakan lingkungan.

Di balik aktivitas pengerukan tanah dan pembukaan lahan di kawasan hulu, tersimpan ancaman lain yang lebih sulit terlihat, yakni paparan merkuri yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Scroll untuk baca berita

Peringatan itu disampaikan Pendiri Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, yang menilai penggunaan merkuri dalam pertambangan emas skala kecil (PESK) telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius.

“Merkuri bukan sekadar mencemari lingkungan. Zat ini masuk ke tubuh manusia dan dampaknya bisa permanen,” kata Yuyun.

Menurut dia, risiko terbesar dari merkuri justru muncul melalui jalur yang tidak disadari banyak orang.

Logam berbahaya tersebut dapat terbawa ke sungai dan perairan, kemudian berubah menjadi metilmerkuri yang mudah diserap ikan dan organisme air lainnya.

Akibatnya, masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam aktivitas pertambangan tetap berpotensi terpapar melalui konsumsi ikan maupun penggunaan air yang telah tercemar.

Baca Juga:  Giliran Desa Teratai Pohuwato, Aktivitas PETI Malam Hari Mengusik Warga

“Yang paling berbahaya adalah rantai paparan yang tidak terlihat. Orang tidak menambang, tetapi tetap menerima dampaknya melalui makanan dan sumber air,” ujarnya.

Di Pohuwato, aktivitas PETI dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat. Jika sebelumnya dilakukan secara tradisional, kini kegiatan tersebut banyak menggunakan alat berat.

Puluhan ekskavator dilaporkan beroperasi hampir setiap hari di kawasan perbukitan yang selama ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air.

Pembukaan lahan secara masif, pengerukan material tanah, dan perubahan bentang alam terus berlangsung.

Kondisi ini mempercepat kerusakan lingkungan sekaligus meningkatkan risiko sedimentasi sungai, banjir, hingga berkurangnya kualitas sumber air bagi masyarakat sekitar.

Aktivitas pertambangan juga dilaporkan telah merambah kawasan Cagar Alam Panua, salah satu kawasan konservasi penting di Gorontalo yang menjadi habitat satwa endemik seperti burung maleo dan rangkong.

Selain mengancam keanekaragaman hayati, penggunaan merkuri dalam proses pengolahan emas menambah beban pencemaran lingkungan.

Baca Juga:  Pemuda Gorontalo Pasang Badan Dukung Penertiban Tambang Ilegal oleh Gubernur

Saat amalgam dibakar, merkuri menguap ke udara sebelum akhirnya kembali mengendap di tanah dan perairan.

Kajian Nexus3 Foundation menemukan bahwa kontaminasi merkuri telah terdeteksi di udara, tanah, air, bahkan tubuh manusia pada sejumlah wilayah pertambangan emas skala kecil di Indonesia.

Data lembaga tersebut menunjukkan sektor PESK menyumbang sekitar 69,7 persen dari total emisi merkuri nasional, dengan estimasi pelepasan mencapai 307.125 kilogram per tahun.

Paparan merkuri diketahui dapat menyerang sistem saraf manusia. Dampaknya mulai dari tremor, gangguan koordinasi tubuh, penurunan daya ingat, hingga kerusakan otak.

Dalam jangka panjang, zat ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal, penyakit jantung, serta mengganggu perkembangan janin.

Nexus3 Foundation bahkan menemukan indikasi paparan merkuri pada kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak-anak yang tinggal di sekitar wilayah pertambangan, dengan kadar yang melebihi ambang batas aman.

Meski demikian, penggunaan merkuri masih terus berlangsung karena alasan ekonomi.

Baca Juga:  Momentum HUT AJI Jambi Ungkap Dampak Praktik Kotor Transisi Energi

Bagi sebagian masyarakat, aktivitas pertambangan emas skala kecil menjadi sumber penghasilan utama di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan formal.

Nexus3 Foundation mencatat Indonesia merupakan salah satu pusat pertambangan emas skala kecil terbesar di dunia.

Sedikitnya terdapat sekitar 1.200 lokasi PESK yang tersebar di 190 kabupaten dan kota pada 31 provinsi, termasuk di sejumlah kawasan lindung.

Padahal, Indonesia telah meratifikasi Konvensi Minamata dan menetapkan target penghapusan merkuri di sektor pertambangan sejak 2017.

Namun, implementasi di lapangan dinilai masih menghadapi banyak tantangan.

Yuyun menilai pengawasan terhadap peredaran merkuri ilegal dan aktivitas pertambangan di daerah terpencil perlu diperkuat agar upaya pengurangan pencemaran dapat berjalan efektif.

“Selama sumber merkuri masih tersedia dan mudah diperoleh, pencemaran akan terus terjadi dan masyarakat akan tetap berada dalam risiko,” katanya.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel