Kabar

Program MBG Gorontalo Makin Kacau, Mahasiswa Bakal Demo Copot Korwil BGN

×

Program MBG Gorontalo Makin Kacau, Mahasiswa Bakal Demo Copot Korwil BGN

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Bakal Demo Copot Korwil BGN/Hibata.id
Mahasiswa Bakal Demo Copot Korwil BGN/Hibata.id

Hibata.id, Gorontalo – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya bikin masyarakat gizinya terpenuhi, justru kini bikin sebagian pihak panas dingin.

Di Kabupaten Bone Bolango, gelombang kritik terus bergulir, bahkan mahasiswa sudah pasang kuda-kuda untuk turun ke jalan.

Ikatan Pelajar Mahasiswa Bone Pesisir (IPMBP) memastikan akan menggelar demonstrasi pada 20–21 April 2026.

Bukan sekadar aksi formalitas, mereka datang dengan menu tuntutan yang tak kalah lengkap dari paket MBG itu sendiri.

Mulai dari dugaan kualitas makanan yang dipertanyakan, pengawasan distribusi yang dianggap longgar, hingga isu yang bikin dahi berkerut.

Adanya dugaan tekanan kepada penerima manfaat untuk membuat video klarifikasi. Kalau benar, ini bukan lagi soal makan bergizi, tapi sudah masuk drama produksi konten.

Baca Juga:  Kodim 1304 Gorontalo Gelar Apel Pasukan Hadapi Pilkada Serentak 2024

Mahasiswa pun tak main-main, mereka mendesak evaluasi total terhadap program MBG serta meminta pihak yang dinilai lalai untuk bertanggung jawab.

Kritik mengarah ke Koordinator Regional Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Gorontalo.

Nama Koordinator Regional SPPG Gorontalo, Zulkifli Talhumala, ikut terseret dalam pusaran kritik. Namun, ia buru-buru meluruskan posisi.

“Kami ini hanya koordinatif, bukan pengambil kebijakan langsung,” kata Zulkifly dalam wawancara, Minggu (19/4/2026).

Artinya, kalau diibaratkan pertandingan sepak bola, Korwil SPPG regional ini lebih mirip pelatih dari pinggir lapangan hanya pemberi arahan.

Zulkifli menegaskan, kendali teknis program MBG, mulai dari dapur hingga distribusi makanan, berada di tangan Kepala SPPG di masing-masing wilayah.

Soal isu intimidasi dan video klarifikasi, ia juga angkat tangan.

Baca Juga:  Hadiah Motor hingga Mystery Box! Ini Daftar Kejutan di Fun Run Fox Hotel Gorontalo

“Saya tidak pernah ketemu dengan yang bersangkutan. Itu masih kami telusuri,” ujarnya.

Ia bahkan menilai praktik meminta penerima manfaat membuat klarifikasi bukan langkah yang tepat.

“Tidak etis sebenarnya kalau yang melakukan klarifikasi itu penerima manfaat,” kata dia.

Meski begitu, video klarifikasi telanjur beredar. Dan seperti banyak hal viral di era digital, munculnya lebih cepat daripada penjelasannya.

“Saya juga kaget, tiba-tiba sudah ada video seperti itu,” ucapnya.

Di sisi lain, Zulkifly mengakui ada “zona abu-abu” dalam pengawasan program. Terutama saat makanan sudah berpindah tangan ke penerima manfaat.

“Kalau makanan sudah dibawa pulang, itu di luar pengawasan kami,” katanya.

Pernyataan ini seperti membuka satu fakta sederhana: pengawasan kuat di awal, tapi melemah di ujung. Ibarat nasi yang sudah jadi, tinggal nasib di tangan siapa sendok itu jatuh.

Baca Juga:  Alasan Klasik Kontraktor di Pohuwato: Warga Dituding Jadi Penghambat Proyek Drainase

Di tengah tekanan yang makin terasa, Zulkifly memilih bersikap terbuka. Bahkan soal kemungkinan diganti.

“Kalau misalnya mau digantikan, sebenarnya saya bersyukur,” ujarnya.

Sementara itu, publik kini menunggu: apakah polemik ini akan berakhir dengan perbaikan sistem, atau justru bertambah panjang seperti antrean program bantuan?

Yang jelas, dengan aksi mahasiswa yang tinggal hitungan hari, isu MBG di Bone Bolango tidak lagi sekadar soal makanan.

Ini sudah jadi soal kepercayaan—dan seperti kita tahu, itu jauh lebih sulit “dimasak” daripada sekadar sepiring menu bergizi.

**Cek berita dan artikel terbaru di GOOGLE NEWS dan ikuti WhatsApp Channel